Pages

Translate

Blogroll

AWAL MULA BERDIRI DAN BERKEMBANGNYA KERAJAAN SRIWIJAYA

Minggu, 13 Januari 2013

Makalah
AWAL MULA BERDIRI DAN BERKEMBANGNYA
KERAJAAN SRIWIJAYA



Oleh
Anggy Resty Setia Wardhana
11011001024


Fakultas Sastra Ilmu Sejarah
Universitas Jember
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Kecenderungan adanya dugaan Kerajaan Sriwijaya dilahirkan dari Kerajaan Purba yang dibangun Suku Dayak terlihat dari beberapa kesamaan seperti ornamen bunga teratai, warna kuning dan emas sebagai warna kebesaran, serta lambang naga yang merupakan hewan agung yang dipercaya Suku Dayak.
Jika benar seperti itu, Kerajaan Sriwijaya dapat diprediksi telah lahir sebelum abad ke 7 Masehi. Lahirnya Kerajaan Sriwijaya diduga lebih tua dari Kerajaan Kutai. Hal itu dijelaskan pada Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan M Batenburg pada 29 November 1920 lalu di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan. Dalam prasasti tersebut dijelaskan Dapunta Hyang melakukan perjalanan suci ke timur dengan membawa 2 laksa tentara.
Berdasarkan cerita lainnya, Dapunta Hyang merupakan sebuah gelar yang mutlak disandang oleh semua Raja Sriwijaya. Sehingga patut dipertanyakan Raja Sriwijaya ke berapa yang melakukan perjalanan suci ke timur tersebut? Maka untuk lebh jelas lagi mari kita bahas dalam makalah akhir ini.
Rumusan Masalah
            1. Berdirinya kerajaan Sriwijaya.
2. Pendiri kerajaan Sriwijaya.
3. Samaratungga dan Borobudur.
4. Kemajuan dibidang pelayaran dan perdagangan.

BAB II
PEMBAHASAN
Sekitar Tahun 500: Sriwijaya
Dalam bahasa Sanskerta kata “Sriwijaya” mengandung dua suku kata: “sri” berati cahaya; “wijaya” berarti kemenangan. Dan memang, Sriwijaya adalah satu dari kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Kerajaan besar lain adalah Majapahit, yang berdiri pada masa akhir keberadaan kerajaan ini. Cikal bakal keberadaan kerajaan yang terletak di seputar kota Palembang, Sumatera Selatan sekarang ini menurut catatan sudah ada pada tahun 500-an. Kerajaan ini terdiri atas tiga daerah utama: daerah ibukota yang berpusatkan di sekitar Palembang, lembah Sungai Musi dan daerah-daerah muara.Mengingat lokasinya, kerajaan ini diperkirakan menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim penting pada abad keenam.
Bahkan pada sekitar tahun 425 agama Buddha sudah diperkenalkan di Sriwijaya. Sriwijaya – tepatnya Palembang – menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Ching, yang melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya ke Universitas Nalanda, India pada tahun 671 dan 695. Ia menuliskan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan.
I Ching banyak menulis tentang keberadaan Sriwijaya. Catatannya kemudian menjadi bahan penting untuk mengetahui keberadaan kerajaan ini. Selain catatan tersebut, bukti lain tentang keberadaan Sriwijaya bisa ditemui dari berbagai peninggalan. Antara lain prasasti . Prasasti yang menuliskan tentang Sriwijaya antara lain dibuat pada tahun 683 di Palembang. Namanya Prasasti Kedukan Bukit.[1]
Pendiri Kerajaan Sriwijaya
           Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa  Ia memimpin 20.000 tentara di Minanga Tamwan (Ibu Kota Kerajaan Melayu ) yang diliputi perasaan senang karena kemenangan menaklukkan Kerajaan Malayu . Pada tahun 680 di bawah kepemimpinan Jayanasa, wilayah Kerajaan Melayu, Jambi dan Bengkulu takluk di bawah Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa (dinasti) Sailendra mulai berkuasa di Jawa Tengah. Ia merupakan keturunan langsung Sriwijaya.
Berdasarkan prasasti Kota Kapur , Sriwijaya menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung. Kerajaan ini menguasai perdagangan di Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Perluasan wilayah ke Jawa dan Semenanjung Melayu (Malaysia), menjadikan Sriwijaya menguasai dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Catatan atau bukti peninggalan Sriwijaya memang tersebar di berbagai negara yang berada dalam kekuasaannya. Ada di Thailand, Kamboja, Vietnam, selain di beberapa provinsi di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.
Raja-raja Sriwijaya
683 Jayanasa
702 Indrawarman
728 Rudra Wikraman
790 Dharmasetu
775 Sangramadhananjaya
792 Samaratungga
835 Balaputra
960 Sri Uda Haridana atau Sri Udayadityawarman
961 Sri Wuja atau Sri Udayadityan
980 Hia-Tche
988 Sri Culamaniwarmadewa
1008 Sri Marawijayottungga
1017 Sumatrabhumi
1025 Sangramawijayottungga
1028 Sri Dewa
1064 Dharmawira
1156 Sri Maharaja
1178 Trailokaraja Maulibhusana Warmadewa
1183-1251 Belum ada catatan tentang raja Sriwijaya pada masa itu[2]

Samaratungga dan Borobudur
             Pada masa
Samaratungga berkuasa, 792 sampai 835, ia lebih memusatkan perhatian pada penguasaan wilayah di Pulau Jawa. Pada masa kepemimpinannya itulah Candi Borobudur di Jawa dibangun dan selesai pada tahun 825. Pada abad ke-12, luas wilayah Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, Malaysia (Kelantan, Kedah, Pahang, misalnya), Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina. Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim besar hingga sekitar tahun 1200.
Kekuatan Sriwijaya mulai pudar pada sekitar tahun 1000. Rajendra Chola, Raja Chola dari Koromandel, India Selatan menyerang Sriwijaya dalam tiga gelombang. Yang pertama tahun 1017. Pada penyerangan kedua tahun 1025 pasukan India Selatan menaklukkan Kedah dari Sriwijaya dan menguasainya. Pada tahun 1068 hampir seluruh wilayah Sriwijaya diserang. Meskipun serbuan Chola tidak berhasil sepenuhnya, tetapi serangan-serangannya memberi dampak yang sangat besar. Beberapa negara kecil yang tadinya berada di bawah kekuasaan Sriwijaya – Kadiri di Jawa misalnya – melepaskan diri.
Pada tahun 1288, Kerajaan Singhasari (penerus kerajaan Kadiri di Jawa) melakukan “Ekspidisi Pamalayu”. Ekspidisi di sini bisa berarti “penyerangan”. Ekspidisi Pamalayu berhasil meruntuhkan Palembang dan Jambi. Selanjutnya, pada tahun 1293 Sriwijaya tunduk pada kekuasaan Kerajaan Majapahit. Raja Majapahit, keempat, Hayam Wuruk, menyerahkan kekuasaan atas wilayah Sriwijaya kepada Pangeran Adityawarman, seorang peranakan Minang dan Jawa.  Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia.Pada pergantian abad itulah keberadaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan berakhir.[3]
Kemajuan Bidang Pelayaran dan Perdagangan
          Telah dijelaskan di muka bahwa sudah berabad abad lamanya antara India dan tiongkok terjalin hubungan pelayaran yang erat. Jalan yang dipakai ialah jalan laut lewat kawasan Asia Tenggara. Berhubungan dengan perkembangan agama Budha maka banyaklah musyafir China memanfaatkan jalur tersebut untuk pergi ke India guna menuntut ilmu. Pada abad abad berikutnya orang orang Arab ikut memainkan pasaran yang penting dalam hubungan dagang India Tiongkok itu. Daerah Sumatra Selatan tepat jadi jalour perdagangan India-Tiongkok. Wajar bila banyak kapal-kapal asing yang singgah untuk mengambil minum, perbekalan dan sebagainya. Kenyataan ini mempunyai arti penting dilihat dari segi militer. Yang kesemuanya tadi merupakan faktor prinsip yang dapat mendorong bagi perkembangan kerajaan Sriwijaya kelak menjadi suatu negara maritim terbesar di Indonesia.
            Penempatan pusat kekuasaan kerajaan Sriwijaya ini ada hubungannya dengan usaha usaha Sriwijaya untuk menguasai sepenuhnya jalur perdagangan antara India-Tiongkok. Dengan menguasai daerah-daerah di Sumatra Selatan dan di Semenanjung maka Sriwijaya dapat menguasai daerah-menyebelah perairan Selat Malaka yang pada waktu itu merupakan urat nadi perhubungan laut. Selain itu keruntuhan kerajaan Fu-nan karena perang saudara akibatnya kekuasaan tunggal di Asia Tenggara menjadi kosong. Kesem patan ini tidak di sia-siakan oleh Sriwijaya. Letak yang strategis dan angkatan laut yang kuat Sriwijaya mampu mengambil alih kedudukan Fu-nan dan sekaligus menguasai rute perdagangan di Asia Tenggara. Faktor-faktor itulah yang merupakan latar belakang utama bagi perkembangan dan pertumbuhan kerajaan Sriwijaya dikemudian hari.[4]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan besar pada abad ke 6 SM yang menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim penting. Selain itu juga menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Pada masa Samaratungga berkuasa, 792 sampai 835 itulah Candi Borobudur di Jawa dibangun dan selesai pada tahun 825. Pada tahun 1288, Kerajaan Singhasari (penerus kerajaan Kadiri di Jawa) melakukan “Ekspidisi Pamalayu”. Ekspidisi di sini bisa berarti “penyerangan”. Ekspidisi Pamalayu berhasil meruntuhkan Palembang dan Jambi.
            Daerah Sumatra Selatan tepat jadi jalour perdagangan India-Tiongkok. Wajar bila banyak kapal-kapal asing yang singgah untuk mengambil minum, perbekalan dan sebagainya. Kenyataan ini mempunyai arti penting dilihat dari segi militer. Yang kesemuanya tadi merupakan faktor prinsip yang dapat mendorong bagi perkembangan kerajaan Sriwijaya kelak menjadi suatu negara maritim terbesar di Indonesia.







DAFTAR PUSTAKA
Nia Kurnia, Sholihat Irfan, 1983, Kerajaan Sriwijaya:Pusat Pemerintahannya dan perkembangannya, Jakarta: PN  Balai Pustaka.
Deni Prasetyo, 2009, Mengenal Kerajaan Kerajaan Nusantara, Jakarta: Angkasa.
Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, 1993, Sejarah Nasional Indonesia III Jakarta: PN Balai Pustaka.
Slamet Muljana, 2006, Sriwijaya, Jakarta: PN Yayasan Idayu.


[1] Nia Kurnia, Sholihat Irfan, Kerajaan Sriwijaya:Pusat Pemerintahannya dan perkembangannya, (Jakarta: PN  Balai Pustaka,1983), hlm.85-115.
[2] Deni Prasetyo, Mengenal Kerajaan Kerajaan Nusantara (Jakarta: Angkasa, 2009), hlm.102-138.
[3] Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III (Jakarta: PN Balai Pustaka,1993), hlm 85-103.
[4] Slamet Muljana, Sriwijaya (Jakarta: PN Yayasan Idayu, 2006), hlm 58-75.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Search

Memuat...
 

Most Reading

Sidebar One

Bergarak lebih baik daripada diam
terusalah berkarya.

Semangat...!!!